Rizky (17), anak sulung Rustini, tercatat dalam desil 1 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Ia tinggal bersama ibu dan dua adiknya di rumah sempit milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), di daerah dengan akses jalan yang curam. Rumah tersebut berdinding asbes, berlantai tanah yang hanya dilapisi karpet, beratap seng, tanpa listrik dan tanpa fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Karena tekanan ekonomi, Rizky terpaksa putus sekolah dan tidak sempat menyelesaikan pendidikan SMP. Namun di tengah keterbatasan, semangat Rizky untuk belajar tetap menyala. Ia ingin kembali menuntut ilmu dan mengubah masa depan lewat Sekolah Rakyat.
"Setelah lulus dari Sekolah Rakyat saya ingin jadi orang yang lebih baik, mewujudkan cita-cita punya bengkel otomotif sendiri. Terima kasih Pak Prabowo dan Pak Menteri. Semoga sehat selalu," ucap Rizky.
Gus Ipul juga menyaksikan senyum para orang tua yang terbantu dengan program Sekolah Rakyat ini. Momen itu salah satunya terjadi saat ia menghadiri acara Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya, Jawa Timur, Jum'at (26/6/2026).
Kegiatan open house dilakukan untuk membuka kesempatan kepada calon siswa dan orang tuanya, serta tokoh-tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah untuk dapat melihat langsung perkembangan pembelajaran siswa Sekolah Rakyat.