Liu menegaskan, hasil penelitian tersebut bukan berarti seseorang harus berhenti minum kopi atau mengonsumsi teh dalam jumlah berlebihan. Menurutnya, konsumsi teh dalam jumlah sedang mungkin menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung kesehatan tulang. Di sisi lain, konsumsi kopi dalam jumlah sangat tinggi mungkin kurang ideal, terutama bagi perempuan yang juga memiliki kebiasaan minum alkohol.

"Studi ini menawarkan pandangan menarik tentang bagaimana minuman sehari-hari mungkin berhubungan dengan kesehatan tulang, tetapi temuan tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati," kata ahli diet terdaftar sekaligus profesor bidang nutrisi di New York University, Lisa Young.

Pasalnya, penelitian tersebut hanya mengamati kebiasaan peserta dari waktu ke waktu tanpa mengatur apakah mereka harus minum kopi atau teh. Karena itu, penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa kopi menyebabkan tulang melemah atau teh membuat tulang menjadi lebih kuat.

Young juga menyoroti sejumlah keterbatasan penelitian, termasuk perbedaan gaya hidup peserta, fokus penelitian yang hanya mengukur kepadatan tulang dan bukan kejadian patah tulang, serta efek yang relatif kecil dan terutama terlihat pada perempuan lanjut usia.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.