Saat menghadapi masalah, seseorang terkadang kesulitan mengendalikan kemarahan, rasa kecewa, atau kekhawatiran. Memberi jeda sebelum merespons suatu keadaan dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih.
Shalat dapat menjadi salah satu momen untuk melakukan refleksi diri dan menata kembali pikiran. Doa dan bacaan yang dihayati juga dapat membantu sebagian orang mengingat nilai-nilai yang mereka pegang ketika menghadapi situasi sulit.
Sebuah penelitian berjudul Mindfulness in Salah Prayer and its Association with Mental Health yang diterbitkan dalam Journal of Religion and Health pada 2017 mengkaji hubungan antara perhatian penuh saat shalat dan kesehatan mental. Penelitian terhadap 174 peserta menemukan bahwa mereka yang menjalankan shalat secara rutin dan dengan perhatian penuh memiliki skor kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan kelompok pembanding dalam penelitian tersebut.
Namun, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa shalat secara langsung menyebabkan perbaikan kesehatan mental. Penelitian tersebut juga menggunakan sejumlah pengukuran berdasarkan laporan peserta sendiri.
3. Memberikan rasa tenang dan makna hidup
Bagi sebagian orang, keyakinan spiritual menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi kehilangan, kegagalan, atau ketidakpastian. Shalat dapat menjadi sarana untuk berdoa, mengungkapkan harapan, dan mencari makna di balik pengalaman hidup.
Perasaan terhubung dengan keyakinan dan nilai pribadi dapat membantu seseorang menghadapi persoalan dengan sudut pandang yang berbeda. Hal ini juga berpotensi menumbuhkan harapan ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.