NADIKABAR.COM — Keberadaan mahram acapkali menjadi aspek krusial bagi kaum hawa saat hendak menjalankan ibadah haji maupun bepergian jauh (safar). Namun, tak sedikit masyarakat yang masih keliru membedakan istilah mahram dengan muhrim, hingga bingung menentukan siapa saja kerabat laki-laki yang sah mendampingi jemaah perempuan di Tanah Suci.

Mengutip buku Fiqh Munakahat: Hukum Pernikahan dalam Islam karya Sakban Lubis dkk, mahram merujuk pada golongan orang yang haram untuk dinikahi akibat ikatan kekerabatan, persusuan, atau hubungan pernikahan (mushaharah). Hal ini berbeda dengan istilah muhrim, yang sebenarnya berarti orang yang sedang mengenakan pakaian ihram.

Selain berimplikasi pada larangan menikah, status mahram memberikan kelonggaran muamalah. Di antaranya diperbolehkan berjabat tangan, menampakkan aurat besar tertentu dalam batas wajar, serta tidak membatalkan wudhu saat bersentuhan kulit tanpa penghalang.

Dasar penetapan mahram ini termaktub secara eksplisit dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 23:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا