Di sidang PBB tersebut, Pezeshkian juga menegaskan Iran tidak akan pernah bertekuk lutut setelah hampir tujuh bulan perang dengan AS dan Israel. Namun, ia menyebut tetap terbuka terhadap solusi diplomatik untuk konflik tersebut.
Ia juga merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan sedang menghadapi keputusan besar, apakah akan bernegosiasi atau 'memusnahkan' Iran. Pezeshkian menyebut ancaman tersebut merupakan tanda mentalitas perundungan. Ia mengingatkan perlawanan Iran justru akan semakin kuat di tengah tekanan.
"(Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran justru akan semakin kuat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan tindakan perundungan. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut," ujarnya.
Namun, ia mengatakan Iran siap berdialog, diplomasi dan negosiasi tanpa menerima bahasa kekerasan. Pezeshkian menegaskan kesepakatan apapun harus mencakup penghentian blokade AS yang menghalangi kapal Iran menggunakan jalur perairan di Teluk.