NADIKABAR.COM β€” Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9), di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Iran, konflik Rusia-Ukraina, gejolak energi, serta kekhawatiran mengenai masa depan organisasi dunia tersebut.

Pertemuan para pemimpin dunia di New York berlangsung ketika berbagai upaya diplomatik menghadapi jalan buntu. Sekretaris Jenderal PBB AntΓ³nio Guterres mengatakan dunia memasuki masa ketidakpastian yang mendalam.

"Para pemimpin dunia akan berkumpul di PBB dalam era ketidakpastian yang mendalam. Pada saat yang sama, kekuatan sedang bergeser. Dunia berubah. Dan institusi kita harus berubah bersamanya," kata Guterres.

Trump diperkirakan akan menggunakan pidatonya untuk menegaskan bahwa kepemimpinannya telah menghadapi berbagai persoalan internasional secara langsung. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan Trump akan menyoroti bagaimana pemerintahannya menangani berbagai persoalan kompleks di berbagai belahan dunia.

Di sela-sela sidang, Trump juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, serta Presiden Venezuela Delcy RodrΓ­guez. Ia juga akan bertemu para pemimpin dan pejabat senior negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk membahas perang Iran dan serangan kelompok pemberontak yang didukung Iran terhadap Arab Saudi.

Perang antara AS dan Iran diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tersebut. Konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan itu semakin meluas dan berdampak pada keamanan energi regional.

Jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai membaik dalam beberapa pekan terakhir setelah kapal-kapal komersial mendapat bantuan pengawalan Angkatan Laut AS. Namun, arus minyak masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Harga minyak Brent juga berada di sekitar 100 dolar AS per barel, dibandingkan sekitar 70 dolar sebelum perang.

Arab Saudi sebelumnya menutup sebuah jalur pipa yang berfungsi sebagai alternatif bagi minyak yang terhambat di kawasan Teluk. Langkah itu dilakukan setelah pipa tersebut diserang kelompok militan yang didukung Iran di Irak. Sementara itu, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman juga meningkatkan risiko bagi kapal pengangkut minyak di sekitar Selat Bab al-Mandab.

Qatar dan sejumlah mediator lainnya berupaya menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan para mediator menghadapi "defisit kepercayaan yang mendalam" antara kedua pihak.