NADIKABAR.COM — Kesal melihat jalan dan trotoar berlubang di Kota Malang, perajin kaca patri Ivan Rachman memilih meresponsnya dengan cara berbeda. Ia menyulap lubang-lubang tersebut menjadi karya seni mosaik bernama Pothole Mosaic.

Dua karya telah terpasang di sekitar Jalan Semeru, Kota Malang. Satu mengisi lubang di badan jalan, sementara lainnya berada di trotoar. Karya ketiga berukuran sekitar 45 x 25 sentimeter kini tengah dikerjakan dan rencananya kembali dipasang di kawasan trotoar sekitar Jalan Semeru.

Bukan menggunakan material baru, Ivan memanfaatkan limbah potongan kaca patri dari produksinya sendiri maupun milik perajin lain di Kota Malang.

Dengan peralatan sederhana seperti tang potong, alat pemotong kaca, lem dan semen, pecahan kaca tersebut disusun menjadi mosaik untuk mengisi lubang.

Bagi Ivan, karya itu bukan sekadar upaya mempercantik lubang jalan. Ia terinspirasi konsep 'zakat kebudayaan' dari mendiang seniman Nasirun, yakni bagaimana seorang seniman bisa memberikan kontribusi bagi lingkungan tempatnya hidup, berkarya dan mencari penghidupan.

"Kiranya sementara hal ini sedikit kontribusi dari saya untuk lingkungan saya hidup, dibesarkan dan mencari makan, yaitu Kota Malang," ujar Ivan saat ditemui, Selasa (8/9/2026).

Salah satu karyanya diberi nama 'Makobu', terinspirasi dari julukan Malang sebagai Kota Bunga. Namun, nama tersebut sekaligus menjadi sentilan Ivan terhadap kondisi Kota Malang saat ini.

"Malang Kota Bunga, tapi sekarang sepertinya Malang sejuta lubang dan parkir," ungkapnya.

Meski terdengar seperti kritik, Ivan menegaskan Pothole Mosaic sejak awal tidak dibuat khusus untuk menyindir pemerintah.

Ia ingin mempromosikan sekaligus mengasah kemampuannya di bidang kaca patri dan mosaik dengan cara yang tetap memberi manfaat bagi lingkungan.

"Kalau ada pihak atau individu yang menafsirkan ini adalah sebuah kritik tentang perawatan dan pengelolaan kota yang buruk, saya juga tidak masalah," katanya.

Ivan mengaku kerap melihat pengendara terjatuh akibat jalan berlubang, keluhan warga di media sosial hingga persoalan trotoar yang belum sepenuhnya ramah bagi pejalan kaki.

Daripada terus mengeluh, ia memilih menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk merespons kondisi tersebut melalui karya.

Melalui kampanye #ArtisansDoitBetter, Ivan mengajak pelaku industri kreatif ikut memberikan kontribusi sosial bagi kota.

Ia berharap Pothole Mosaic bisa terus dibuat di sejumlah titik lain, sekaligus menghadirkan sedikit keindahan bagi pejalan kaki di tengah kondisi fasilitas publik yang belum ideal.

"Semoga bisa konsisten melakukan kreasi ini, terlebih lagi jika hal ini bermanfaat. Agar bisa menghibur pedestrian, di sela semrawutnya fasilitas pejalan kaki tapi masih bisa menemukan keindahan kecil," pungkasnya.