Berlatar di sebuah lapangan golf, "Filipinana" menjadikan lokasi tersebut sebagai gambaran kecil masyarakat Filipina. Melalui komposisi yang sangat bergaya dan simetris, film itu menyoroti sejumlah isu, termasuk kekerasan berbasis kelas dan perampasan lahan dalam konteks pascakolonial. "Latar cerita film ini menarik. Tokoh utama perempuannya, yang bekerja sebagai pramugolf, bertemu dengan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat di lapangan golf. Orang-orang dari kelas sosial dan latar belakang kebangsaan yang berbeda seolah membentuk sebuah gambaran alegoris tentang masyarakat pascakolonial Filipina," ujar seorang penonton usai pemutaran film tersebut. Film Asia Tenggara lainnya yang turut menarik perhatian adalah "Promised Spaces", sebuah produksi bersama multinegara, termasuk Kamboja dan Serbia, yang berlatar di tengah pesatnya urbanisasi. Melalui alur cerita paralel, film tersebut mengontraskan kehidupan sehari-hari yang semarak di sebuah komunitas sekitar lokasi konstruksi dengan kekosongan hunian-hunian mewah, sembari menyoroti kesenjangan kelas yang tercipta akibat pemisahan ruang perkotaan. Sutradara Ivan Markovic mengatakan lanskap perkotaan Tiongkok juga menjadi sumber inspirasi bagi proses pembuatan filmnya. Seorang penonton mengatakan penggambaran "dua dunia yang dipisahkan oleh satu tembok" dalam film tersebut dapat sangat relevan dengan kondisi di banyak kota yang berkembang pesat.

Sementara itu, "Dead Tide" karya sineas film berbahasa Mandarin asal Malaysia Kethsvin Chee mengisahkan perjalanan seorang mantan tahanan untuk menebus dosanya di sebuah desa nelayan, sekaligus menyoroti berbagai kemungkinan baru bagi perfilman berbahasa Mandarin di Asia Tenggara

Festival Film Internasional Pingyao ke-10 dibuka pada 24 September di kota kuno Pingyao. Sebanyak 50 film dari hampir 40 negara dan kawasan terpilih untuk mengikuti program resmi. Film-film yang melakukan penayangan perdana di Asia mencakup 75 persen dari keseluruhan film terpilih, sedangkan penayangan perdana di Tiongkok mencapai 90,6 persen dan penayangan perdana di Tiongkok Daratan mencapai 100 persen. Didirikan pada 2017, festival tersebut berfokus pada upaya mempromosikan karya-karya sineas muda dari negara-negara produsen film yang baru muncul dan sedang berkembang. Selama satu dekade terakhir, lebih dari 6.000 sineas dari 50 lebih negara dan kawasan telah berpartisipasi, dengan jumlah kumulatif pengunjung melampaui 10 juta. Sebagai festival film internasional yang didedikasikan bagi negara-negara produsen film yang baru muncul, Festival Film Internasional Pingyao terus menyediakan wadah bagi sineas muda Asia Tenggara untuk menampilkan karya mereka dan menjalin pertukaran. Bagi penonton Tiongkok, film-film tersebut juga membuka jendela untuk mengenal masyarakat Asia Tenggara sekaligus memperlihatkan keragaman perfilman berbahasa Mandarin yang melintasi batas-batas negara. Melalui sinema, para sineas dan penonton dari berbagai negara dan latar belakang budaya dapat berdialog melampaui batas negara, sehingga kisah-kisah yang berakar pada komunitas lokal dapat menjangkau penonton jauh melampaui tempat asal mereka.