NADIKABAR.COM — Bayangkan ada sepotong kepala ular tergeletak di tanah yang terpisah jauh dari tubuhnya, namun tiba-tiba rahangnya mengatup tajam saat didekati. Horor? Mungkin iya bagi sebagian orang.
Akan tetapi, bagi dunia sains, fenomena ini bukanlah sekadar dongeng menyeramkan, melainkan sebuah realitas.
Selama ini, pembaca mungkin sering mendengar selentingan mitos tentang reptil ini. Mulai dari ular yang gemar meminum susu, kebiasaan mereka berjalan berpasangan, hingga narasi dramatis tentang ular yang menuntut balas dendam kepada manusia yang membunuh pasangannya.
Namun, Museums Victoria menegaskan kisah-kisah tersebut hanyalah isapan jempol yang tidak terbukti secara ilmiah.
Meski begitu, ada satu "mitos" yang ternyata adalah fakta medis yang mengerikan, yaitu ular tetap bisa menggigit meski kepalanya sudah terpotong. Lantas, bagaimana penjelasan logis di balik fenomena ini?
Menyitir data dari National Geographic, ABC News, dan CBS News, kemampuan mengerikan ini berasal dari sistem saraf ular yang sangat tangguh. Ular memiliki refleks yang tetap aktif meski tubuhnya secara klinis sudah tidak bernyawa.
Hal ini terjadi karena sistem saraf otonom mereka tidak langsung mati saat jantung berhenti atau kepala terpisah. Fenomena ini serupa dengan ayam yang masih bisa berlari sesaat setelah dipenggal.
Tragedi nyata pernah mencatat kengerian ini. Di Texas, seorang pria harus berjuang melawan maut dan menerima dosis antivenom yang sangat besar setelah digigit oleh kepala ular yang sudah ia penggal sendiri.