"Semoga dari 4 anak ini nantinya bisa menginspirasi adik-adiknya dan melalui kegiatan ini kita berharap anak-anak benar-benar bisa mencintai dan mengagumi budaya daerah, secara khusus gandrung sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi," harapnya.

Harapan serupa datang dari Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SMA, Chitra Arti Maharani. Selain menyukseskan program pemerintah, partisipasi peserta didik Sekolah Rakyat di Festival Gandrung Sewu 2026 juga bertujuan menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa serta menjaring talenta siswa. Ajang ini sekaligus untuk menumbuhkan jiwa kompetitif siswa.

"Yang pertama kami ingin mengambil peran sebagai masyarakat Banyuwangi. Kemudian juga untuk mengembangkan talenta anak-anak kami yang berbakat di bidang seni, khususnya tari," ungkapnya.

"Apa salahnya kita ajak untuk keluar bahwasannya di luar sana itu juga banyak talent-talent berbakat. Dan, kalian harus berani untuk bersaing, berani untuk show up. Dari sekolah rakyat pun kalian bisa, karena harus punya percaya diri," sambungnya

Baik gayung bersambut, harapan para kepala sekolah dijawab tuntas dengan penampilan lugas penuh percaya diri para siswi Sekolah Rakyat. Mereka terlihat bangga dan tampil totalitas dengan penuh penghayatan terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Terutama dengan tema utama yang diusung pada gelaran tahun ini, yaitu Kembang Darmo.

Kembang bermakna bunga dan Darmo berarti memberi. Filosofi ini mengajarkan manusia tentang pentingnya keikhlasan dan sikap pasrah kepada sang pencipta, sehingga dapat menjalani kehidupan yang penuh ujian dan ketidakpastian.

Secara sederhana, gandrung sebagai tarian tradisional khas masyarakat Osing Banyuwangi awalnya merupakan bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dalam mitologi Jawa, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen melimpah. Seiring berjalannya waktu, Gandrung berevolusi menjadi simbol identitas dan semangat kebersamaan masyarakat Banyuwangi.