NADIKABAR.COM — Indonesia telah mengikuti Programme for International Student Assessment (PISA) sejak 2000. Selama lebih dari dua dekade, kemampuan siswa Indonesia terus diukur melalui studi internasional yang diselenggarakan setiap tiga tahun.

PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama, yaitu membaca, matematika, dan sains. Peserta tes berasal dari sekolah yang dipilih secara acak sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan siswa sekaligus menjadi salah satu indikator untuk melihat kinerja sistem pendidikan suatu negara.

Pada PISA 2025, studi ini diikuti oleh 91 negara dengan sekitar 760 ribu siswa sebagai sampel. Pelaksanaan tes berlangsung pada April-Mei 2025 menggunakan metode Paper Based Test (PBT) dan Computer Based Test (CBT).

Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara umum PISA bertujuan mengukur sekaligus membandingkan pengetahuan dan keterampilan siswa di berbagai negara. Tiga kompetensi utama yang dinilai adalah membaca, matematika, dan sains.

Hasil penilaian tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kinerja sistem pendidikan masing-masing negara. Data PISA juga memungkinkan adanya perbandingan secara internasional dan menjadi salah satu bahan bagi pemerintah serta pembuat kebijakan dalam merumuskan langkah untuk memperbaiki sistem pendidikan.

Studi ini diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. OECD merupakan organisasi antarpemerintah yang memiliki 38 negara anggota, yang sebagian besar merupakan negara maju.

Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam PISA pada 2000. Lantas, bagaimana perkembangan skor PISA Indonesia dari 2000 hingga 2025?