"Hasil tracking yang pakai Google Form itu, memang bergejala ringan tapi tetap sekolah. Kemudian yang satu itu TK Keluarga, masih di wilayah sekitaran situ juga dan cuma dua siswa, tapi itu juga ringan tetap bersekolah. Yang satu tendik (tenaga pendidik) kalau informasi tadi iya (tendik SD Nyaen)," papar Rohmi.

Tak berhenti di situ, kata Rohmi, hasil tracking via google form itu juga mendeteksi adanya siswa di dua SMA di wilayah tersebut yang juga mengalami gejala keracunan, yakni SMA Negeri 2 Sleman dan YPKK. Namun jumlah siswa bergejala hingga kini masih dalam proses pendataan.

"Bergejala ringan dan tidak rawat jalan maupun rawat inap, dalam pantauan lah. Kami minta ke Puskesmas untuk memantau perkembangan, termasuk yang di YPKK. Tapi ini kan kita juga masih terus mengolah data yang Google Form," papar Rohmi.

"Jadi itu kan Google Form-nya itu diedarkan kemarin ya. Nah yang siang tadi, sore saya belum memantau itu, ternyata masih ada tambahan beberapa yang masuk ngisi ke Google Form," sambungnya.

Rohmi bilang, selain melakukan tracking, Dinkes Sleman juga bergerak memeriksa sampel MBG yang dikonsumsi siswa serta memeriksa lokasi SPPG-nya. Selain itu, SPPG itu juga dihentikan sementara operasionalnya hingga proses pemeriksaan usai.

"Sampelnya sudah dicek kok. Jadi Dinkes sudah mendatangi SPPG-nya, kemudian cek sanitasi dan sebagainya, termasuk sampelnya kemudian dicek juga. Kita tunggu saja," ungkap Rohmi.