NADIKABAR.COM — Pemerintah lewat Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi membuka program SMK Go Global pada Rabu (26/8). Lewat program ini, para lulusan SMK akan dilatih agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.
"Kita menyiapkan orang Indonesia, kawan-kawan pekerja Indonesia yang siap nanti ditempatkan setelah selesai diklat. Selesai dari pelatihan memiliki sertifikasi kompetensi teknis dan bahasa, maka siap untuk ditempatkan di luar negeri karena anak-anak sudah paham bahwa pelatihan ini nanti output-nya untuk ke luar negeri," ujar Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)Mukhtarudin dalam laman Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
SMK Go Global juga dibuka untuk lulusan SMA, S1, dan S2. Mereka diproyeksikan mengisi berbagai sektor pekerjaan, tim redaksi lain caregiver, welder, hospitality, nurse, truck driver, manufaktur, transportasi, pertanian, konstruksi, hingga sektor kelautan.
Para peserta yang telah lulus pelatihan akan dikirimkan ke negara tujuan termasuk Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, kawasan Eropa, Turki, dan Taiwan.
"Target kita bukan hanya berapa banyak yang bisa ditempatkan. Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak Pekerja Migran benar-benar memiliki kompetensi, tersertifikasi, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan terlindungi. Karena itu, kualitas menjadi kata kunci dalam SMK Go Global," ujarnya.
Sesuai arahan presiden, SMK Go Global menyiapkan 500.000 tenaga kerja, terdiri atas 300.000 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) lulusan SMK dan 200.000 CPMI umum.
Untuk tahun 2026, target penempatan menjadi 40.000 CPMI, sementara target pada 2027 sebanyak 140.000 CPMI, 2028 sebanyak 180.000 CPMI, dan 2029 sebanyak 140.000 CPMI.
Pelatihan keterampilan dalam SMK Go Global dirancang berdasarkan pemetaan sektor, jabatan, negara tujuan, kualifikasi, dan kebutuhan kompetensi di pasar kerja luar negeri. Calon pekerja migran akan dibekali dengan penguatan kompetensi teknis, sertifikasi, serta pelatihan bahasa sesuai standar negara tujuan masing-masing.
Ekosistem pelatihan juga mencakup kompetensi teknis dan bahasa. Untuk sejumlah jabatan, peserta mendapatkan pelatihan teknis, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan bahasa sesuai negara tujuan.