NADIKABAR.COM — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyatakan bahwa sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan barista yang diadakan Balai Latihan Kerja (BLK) selama 16 hari, sebagai bagian dari program SMK Go Global.
"Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja," kata instruktur Barista BLK Kabupaten Garut, Aline Novita Dewi, dalam keterangan KP2MI, Jakarta, Selasa.
Aline menilai pelatihan dalam program SMK Go Global tidak hanya meningkatkan kemampuan peserta untuk menghasilkan secangkir kopi yang enak.
Lebih dari itu, peserta, katanya, dipersiapkan agar memiliki sikap dan kebiasaan kerja yang dibutuhkan ketika memasuki dunia industri. Peserta juga perlu dibekali kedisiplinan, etika, kemampuan berkomunikasi, dan sikap kerja agar mampu beradaptasi ketika berada di lingkungan kerja yang baru.
Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari berbagai kompetensi, mulai dari mengelola bahan dan peralatan, mengelola area kerja, menggunakan alat manual brew dan mesin espresso, menangani pelanggan, hingga menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja, kata Aline lebih lanjut.
Komposisi pembelajaran juga tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Sekitar 70 persen pelatihan diarahkan pada hard skill, sementara 30 persen lainnya merupakan soft skill yang mendukung kesiapan peserta di lingkungan kerja.
Kemudian, pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi open kedai. Mereka bergantian menjalankan peran sebagai barista, kasir, pelayan, maupun pelanggan. Simulasi tersebut memberikan pengalaman menghadapi situasi yang lebih mendekati kondisi kerja sebenarnya.
"Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir," kata Aline.
"Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya. Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta. Kalau kita permudah, 'kan kita tidak tahu ya nanti di tempat kerjanya seperti apa," tambah Aline.