Ibas mengingatkan musim kemarau dengan kondisi cuaca yang panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila tidak diikuti perilaku masyarakat yang tertib dan bertanggung jawab.

"Kalau kita tidak tertib, kalau kita tidak menyayangi lingkungan, bisa terjadi kebakaran, bisa terjadi kerusakan yang akhirnya membahayakan jiwa dan raga kita, termasuk satwa dan lingkungan hidup," kata Ibas.

Karena itu, Ibas meminta masyarakat, tokoh masyarakat, orang tua, generasi muda, dan aparatur untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

"Untuk memadamkan api tidak mudah. Karena itu diperlukan komitmen dari bapak ibu semua dan diperlukan ketegasan dari para orang tua dan aparatur," ujar Ibas.

Ibas memberikan apresiasi kepada Kementerian LH dan pemerintah daerah (pemda) yang terus mendorong isu lingkungan melalui berbagai program, termasuk ProKlim.

Menurut Ibas, persoalan lingkungan tidak dapat hanya diselesaikan oleh pemerintah. Masyarakat harus menjadi bagian aktif dalam menjaga lingkungan di tingkat desa dan komunitas.

Ibas mendorong agar delapan desa di Kecamatan Ngebel terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.

"Kita ingin Kecamatan Ngebel benar-benar menjadi penyangga peningkatan perekonomian Kabupaten Ponorogo dan menjadikan masyarakatnya lebih sejahtera," ungkap Ibas.

Menurut Ibas, keberhasilan program lingkungan akan semakin besar apabila terhubung dengan kegiatan ekonomi masyarakat, seperti UMKM, pertanian, perdagangan, dan pariwisata.

Ibas memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Ngebel. Ia mengajak anak-anak muda mengisi waktu dengan kegiatan yang positif sekaligus menjadi pelopor kepedulian terhadap lingkungan.

"Daripada kita menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna, mulailah dari sesuatu yang kecil. Jadilah bagian yang sadar terhadap lingkungan dan pentingnya wisata alam," pesan Ibas.