NADIKABAR.COM — Kandidat oposisi dari partai Yashar! Gadi Eisenkot mengklaim dirinya unggul dalam Pemilu Israel dan siap menggantikan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Eisenkot dikenal sebagai tokoh politik yang memiliki pengalaman di militer.

Dikutip dari laman resmi partai Yashar!, Eisenkot lahir di Tiberias pada tahun 1960 dari keluarga tradisional, kemudian dibesarkan di Eilat. Ia menikah dengan Hana dan dikaruniai lima orang anak.

Eisenkot memiliki pengalaman militer di IDF. Ia di Brigade Golani pada tahun 1978 dan meniti karier dari prajurit di Batalyon 13 hingga menjadi komandan brigade.

Ia mengabdi selama 41 tahun di IDF dan memegang sejumlah posisi kunci, termasuk Sekretaris Militer untuk dua perdana menteri, Komandan Divisi Yudea dan Samaria saat Intifada Kedua, Kepala Direktorat Operasi, Komandan Komando Utara, hingga Wakil Kepala Staf. Ia kemudian menjadi Kepala Staf IDF ke-21 pada tahun 2015.

Ia pun dikenal sebagai penggagas "Doktrin Dahiya" yang menetapkan bahwa Israel akan membalas secara tidak proporsional terhadap infrastruktur yang digunakan oleh Hizbullah jika terjadi konfrontasi.

Selain itu, Eisenkot dikenal karena memprakarsai kebijakan penggunaan kekuatan dalam operasi terbuka maupun terselubung di Timur Tengah. Ia juga pernah menghentikan gelombang serangan penikaman pada 2015, mengeliminasi ancaman terowongan serangan di perbatasan Gaza dan utara, serta memajukan rencana multi-tahun "Gideon" untuk memperkuat kapabilitas darat, udara, laut, intelijen, dan siber IDF.

Setelah pensiun dari militer, ia menjabat sebagai Ketua David Ben-Gurion Heritage Institute serta bekerja di sektor swasta. Terpilih menjadi anggota Knesset ke-25 pada tahun 2022.

Pada Agustus 2023, ia sempat memperingatkan potensi terkikisnya daya tangkal dan posisi regional Israel akibat kebijakan pemerintah dan perpecahan sosial.

Pasca-serangan 7 Oktober, ia menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Perang untuk merumuskan target perang, pembebasan sandera, serta penumpasan Hamas dan Hizbullah.

Pada tahun 2025, ia mendirikan partai "Yashar!" sebagai alternatif pemerintahan yang bertujuan mengembalikan Israel sebagai negara Yahudi.

Sebelumnya, dilansir AFP, Rabu (28/10/2026), Eisenkot menyampaikan pernyataan klaim kemenangan tersebut di hadapan para pendukungnya pada Rabu dini hari setelah hasil exit poll mulai dirilis.

Exit poll menunjukkan blok oposisi yang dipimpin Eisenkot unggul tipis atas blok sayap kanan Netanyahu. Namun, kedua kubu belum memperoleh mayoritas kursi untuk membentuk pemerintahan.

"Rakyat telah berbicara menentang kelanjutan pemerintahan Netanyahu," kata Eisenkot.

Dia mengatakan hasil tersebut menunjukkan keinginan masyarakat Israel untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Eisenkot pun menegaskan akan berupaya membentuk pemerintahan baru.

Dalam pidatonya, Eisenkot juga melontarkan peringatan kepada Netanyahu. Dia menyinggung pernyataan Netanyahu dalam beberapa hari terakhir yang kembali memperingatkan akan menyerang Iran.

Menurut Eisenkot, ancaman keamanan tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik. "Netanyahu, jangan berani menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politikmu," tegas Eisenkot.