NADIKABAR.COM — Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang meluas hingga ke wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu memicu lonjakan permintaan alat pelindung diri. Masker medis dan non-medis mendadak kembali diburu untuk mengantisipasi gangguan pernapasan.
Kondisi ini memicu kelangkaan stok di sejumlah titik. Berdasarkan pantauan NadiKabar.com di wilayah Bekasi, keberadaan masker di apotek hingga minimarket mulai sulit ditemukan.
Di Apotek KF misalnya, seluruh persediaan masker habis total. Pengelola bahkan menempelkan pengumuman bertuliskan 'masker kosong' di depan pintu masuk.
"Iya (masker) kosong. Semua varian kosong. Habis semua, pada beli karena banyak abu," ujar salah satu penjaga apotek saat ditemui NadiKabar.com, Senin (7/9/2026).
Kondisi serupa dialami apotek lain di sekitarnya. Stok yang tersisa hanya berupa masker medis tiga lapis (3-ply) sebanyak dua kotak.
"Adanya ini doang, sisa ini (masker medis biasa). Satu kotak harganya Rp 21 ribu," kata penjaga apotek lainnya, Nathania.
Tak hanya di apotek, kelangkaan juga meluas ke toko ritel modern. Di beberapa minimarket, stok yang tersisa hanya berupa masker edisi terbatas keluaran merek minimarket isi 3-4 buah, masker tipe duckbill, hingga masker kain non-medis.
Beberapa penjaga toko menyebut persediaan masker mereka ludes diserbu warga sejak malam sebelumnya, terutama untuk kebutuhan anak-anak sekolah.
"Iya sisa itu aja Kak, semalam diborong bocah," tutur seorang penjaga minimarket.
"Maskernya pada habis Teh, diborong. Banyak yang beli tadi, buat anak sekolah katanya," timpal petugas di minimarket berbeda.
Sejumlah warga mengeluh kesulitan mendapatkan masker untuk beraktivitas di luar rumah. Fify (28), salah satu warga Bekasi, mengaku harus mendatangi beberapa lokasi ritel hingga mengecek platform e-commerce demi mendapatkan masker.
"Idolmart habis masker, di Alfa juga sama sisa masker untuk anak kecil. Di e-commerce juga mulai dimahalin harganya," ungkap Fify dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Senin (7/9).
Maraknya pembelian dalam jumlah besar dalam waktu singkat ini diduga memicu kepanikan.
"Mbak-mbak penjaganya sampai bilang orang-orang pada panic buying amat," pungkasnya.