NADIKABAR.COM — SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) melakukan sebuah studi tentang panduan gizi berbasis pangan lokal anak usia sekolah di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan sejumlah zat gizi mikro (micronutrient deficiency) belum terpenuhi secara optimal pada mayoritas anak yang menjadi bagian dari studi. Survei dilakukan pada 4.219 siswa jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas atau yang berusia 7-18 tahun.
Hal diungkap oleh Prof Dr Rini Sekartini Sp A(K) selaku Direktur SEAMEO RECFON. Ia menyebut temuan ini didapat dari penelitian di 12 kabupaten/kota di enam wilayah pulau besar Indonesia.
"Hasil penelitian menunjukkan pemenuhan gizi anak perlu mempertimbangkan kebutuhan gizi dan konteks pangan lokal. Dengan pendekatan linear programming menggunakan WHO Optifood, kami mengidentifikasi kesenjangan zat gizi seperti folat, kalsium, zat besi, vitamin A, vitamin C, dan seng," kata Rini dalam Konferensi Pers di The Hermitage, Jakarta Pusat pada Rabu (9/9/2026).
Masalah kekurangan ini sebesar 100% pada folat, 78% pada kalsium, dan 25% pada vitamin A. Besaran tersebut terjadi baik pada jenjang SD, SMP hingga SMA.
Dari hasil studinya, SEAMEO RECFON menekankan pentingnya intervensi gizi yang tepat sasaran. Pasalnya, kebutuhan gizi mikro anak di setiap daerah bervariasi bergantung pada ketersediaan pangan dan pola makan lokal.