NADIKABAR.COM — Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Barat Mustajab menyebutkan tingginya muka air di saluran Jalan Kapuk Raya, Cengkareng, diakibatkan oleh adanya inlet atau bukaan pada saluran penghubung (PHB) Rawa Bengkel.
"Sehingga, aliran air masuk ke saluran di Jalan Kapuk Raya. Ini juga imbas dari volume saluran irigasi yang cukup tinggi," kata Mustajab dalam pembahasan upaya penanganan saluran tersebut di kantor Wali Kota Jakarta Barat, Senin.
Kondisi tersebut, kata dia, turut diperparah oleh bagian hilir saluran yang tertutup oleh bangunan.
Dia mengatakan kondisi itu pun membuat pengerukan lumpur saluran tidak berdampak signifikan pada penurunan muka air saluran.
Sementara itu, Camat Cengkareng Suhardin menuturkan normalisasi saluran PHB merupakan salah satu solusi teknis untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Penanganan banjir yang dilakukan, yakni penanganan pascabanjir, kerja bakti serentak, dan normalisasi saluran PHB," ujar Suhardin.
Terkait penanganan banjir secara terpadu, lanjut dia, dilakukan dengan penguatan infrastruktur dengan dukungan kewilayahan untuk sistem pompa polder dan pompa makro. Selain itu, optimalisasi saluran PHB juga dilakukan dengan cara pengerukan sedimen lumpur dan perawatan saluran.
"Selain itu, dilakukan penataan kawasan dengan memfasilitasi penertiban persuasif untuk ruang air," tutur Suhardin.
Terkait penataan kawasan, dia mengungkapkan Sudin SDA Jakarta Barat berencana membangun rumah pompa apuran dengan kapasitas 12.000 liter per detik dan melakukan pengerukan serta normalisasi agresif Kali Apuran.
"Selain Kali Apuran, juga penataan kawasan Rawa Buaya berupa pembangunan embung, penertiban persuasif dan penataan bantaran kali untuk ruang retensi," ungkap Suhardin.
Tak hanya Kali Apuran dan Mookevart, sambung dia, normalisasi juga dilakukan pada saluran di sejumlah titik di Kapuk dan Rawa Buaya. Kemudian, dilakukan pula pengurasan saluran dan penambalan sheetpile di Kali Mookevart, RW 08, Kedaung Kaliangke.