Selain itu, faktor kedua ialah kondisi atmosfer. Minimnya tutupan awan konvektif pada siang hari memungkinkan radiasi Matahari mencapai permukaan dengan lebih leluasa sehingga suhu udara meningkat.

Adapun faktor ketiga adalah fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. BMKG menjelaskan dominasi permukaan aspal dan beton, emisi kendaraan, dan terbatasnya ruang terbuka hijau membuat panas lebih banyak terserap.

"Dominasi aspal, beton gedung, emisi kendaraan, serta minimnya ruang terbuka hijau menyerap dan memerangkap panas lebih lama hingga malam hari," katanya.

Meski begitu, BMKG memprediksi suhu di Jakarta pada November tak setinggi Oktober.

"Suhu di bulan November untuk Jakarta tidak setinggi di bulan Oktober," ujarnya.