Keterbatasan tenaga kerja akhirnya membuat pengelola harus bekerja lebih lama untuk memastikan peternakan tetap berjalan.
Bahkan, salah satu pengelola disebut harus bekerja dalam dua shift sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk merawat sapi maupun memperbaiki kandang.
"Saya harus bekerja dua shift. Saya tidak punya waktu untuk merawat sapi dengan baik atau memperbaiki kandang," lanjutnya.
Selain masalah tenaga kerja, keputusan menutup peternakan juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha dari keluarga.
Dua putra pengelola saat ini tinggal di Australia dan disebut mencintai Indonesia, tetapi tidak memiliki keinginan untuk meneruskan usaha peternakan tersebut.
"Kedua putra kami tinggal di Australia. Mereka mencintai Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan," ungkap Yanti.