"Saya diminta membuat naskah, menjadi sutradara," sambungnya.
Ia juga menyebut beberapa kali mendapat undangan berbagi pengalaman dalam program siniar. Ia terlihat tetap antusias meski dunia teater di Jogja sekarang dinilai sudah beda.
"Proses berlatih tidak semarak dulu. Dua, dulu itu aku nggak ngerti karena jaman atau apa pentas tu nggak pernah mikir duit e, yo pentas, pentas wae. Kalau sekarang nggak ada uang nggak jalan. Sementara yg mensponsori atau mensubsidi nggak ada," katanya.
"Jadi hambatannya memang prosesnya nggak seliar dulu yang kedua kesempatan pentas sangat sempit," pungkasnya.