Taiwan sebelumnya menyatakan akan meningkatkan pembelian gas alam dari Amerika Serikat sehingga mencakup sekitar sepertiga dari total impor gasnya pada 2026. Kebijakan tersebut juga bertujuan mengurangi surplus perdagangan Taiwan dengan Amerika Serikat yang telah memicu ketidakpuasan Washington.
Proyek LNG Alaska telah dibahas selama beberapa dekade, tetapi kelayakan ekonominya masih dipertanyakan karena membutuhkan investasi besar dan pembangunan pipa sepanjang 1.287 kilometer. Pengembang menargetkan keputusan investasi final untuk pipa pada 2026, fasilitas ekspor pada 2027, dan pengiriman LNG pertama pada 2031.
Proyek ini diperkirakan menghasilkan 20 juta ton LNG per tahun. Sejauh ini, kesepakatan pembelian mencakup 13 juta ton per tahun, tetapi pengembang masih membutuhkan kontrak tambahan dan kesepakatan yang mengikat untuk memperoleh pembiayaan.
Trump juga menyatakan Korea Selatan telah sepakat berinvestasi dalam proyek senilai 54 miliar dolar AS (sekitar Rp971 triliun). Namun, Seoul menegaskan belum ada keputusan final.
Proyek ini dirancang membuka jalur pasokan LNG Amerika Serikat ke Asia tanpa melewati Terusan Panama atau memutari Tanjung Harapan, sehingga berpotensi mengurangi waktu dan biaya pengiriman.
Taiwan sendiri mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya. Pada delapan bulan pertama 2026, Australia memasok 34,8 persen impor LNG Taiwan, sementara pangsa Qatar turun menjadi 10,7 persen. Impor LNG dari Amerika Serikat meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 24,5 persen.