NADIKABAR.COM — Taiwan berencana menginvestasikan hingga 4,4 miliar dolar AS (sekitar Rp79 triliun) dalam proyek gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Alaska, Amerika Serikat. Sebagai bagian dari rencana tersebut, perusahaan energi milik negara Taiwan, CPC Corporation, akan membeli enam juta ton LNG per tahun setelah produksi dimulai.
Kementerian Perekonomian Taiwan mengonfirmasi rencana tersebut pada Rabu (14/10), beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan komitmen pembelian dan investasi Taiwan dalam proyek pipa gas yang masih dalam tahap pengembangan.
Menurut kementerian, CPC telah mencapai kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan pengembang proyek setelah hampir satu setengah tahun pembahasan dan evaluasi.
"Pengaturan investasi spesifik, kepemilikan saham, dan persyaratan terkait akan ditentukan melalui negosiasi lanjutan serta prosedur kontrak komersial," kata kementerian dalam pernyataannya, seperti dilaporkan Reuters.
Kementerian tidak menyebutkan apakah perjanjian jual beli yang mengikat secara hukum telah ditandatangani.
Trump sebelumnya mengatakan Taiwan telah sepakat membeli 30 persen produksi proyek LNG Alaska selama 20 tahun sekaligus menginvestasikan 4,4 miliar dolar AS (sekitar Rp79 triliun).
Proyek tersebut dirancang menghasilkan 20 juta ton LNG per tahun. Berdasarkan rencana yang disampaikan pemerintah Taiwan, CPC akan membeli enam juta ton setiap tahun setelah produksi dimulai, sesuai dengan surat pernyataan minat yang ditandatangani tahun lalu.
Kementerian Perekonomian Taiwan mengatakan proyek itu berpotensi menambah pasokan gas alam domestik paling cepat pada 2032 jika pembangunan berjalan sesuai jadwal.
"Jika proyek berjalan lancar sesuai jadwal yang direncanakan, proyek ini diperkirakan mulai menambah pasokan gas alam domestik paling cepat pada 2032," kata kementerian.
Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai mengatakan pemerintah berupaya menjaga ketahanan pasokan energi di tengah kebutuhan untuk menjamin ketersediaan minyak, listrik, dan gas alam.
"Peran pemerintah adalah memastikan stabilitas dan ketahanan seluruh pasokan energi. Saya kira hal ini berlaku bagi pemerintah di seluruh dunia," kata Cho pada Rabu (14/10).
"Kami tentu sedang menempuh perjalanan yang sangat panjang dalam hal ini, dan terus bekerja tanpa lelah untuk menjaga kestabilan pasokan minyak, listrik, dan gas alam domestik," ujarnya.
Taiwan sebelumnya menyatakan akan meningkatkan pembelian gas alam dari Amerika Serikat sehingga mencakup sekitar sepertiga dari total impor gasnya pada 2026. Kebijakan tersebut juga bertujuan mengurangi surplus perdagangan Taiwan dengan Amerika Serikat yang telah memicu ketidakpuasan Washington.
Proyek LNG Alaska telah dibahas selama beberapa dekade, tetapi kelayakan ekonominya masih dipertanyakan karena membutuhkan investasi besar dan pembangunan pipa sepanjang 1.287 kilometer. Pengembang menargetkan keputusan investasi final untuk pipa pada 2026, fasilitas ekspor pada 2027, dan pengiriman LNG pertama pada 2031.
Proyek ini diperkirakan menghasilkan 20 juta ton LNG per tahun. Sejauh ini, kesepakatan pembelian mencakup 13 juta ton per tahun, tetapi pengembang masih membutuhkan kontrak tambahan dan kesepakatan yang mengikat untuk memperoleh pembiayaan.
Trump juga menyatakan Korea Selatan telah sepakat berinvestasi dalam proyek senilai 54 miliar dolar AS (sekitar Rp971 triliun). Namun, Seoul menegaskan belum ada keputusan final.
Proyek ini dirancang membuka jalur pasokan LNG Amerika Serikat ke Asia tanpa melewati Terusan Panama atau memutari Tanjung Harapan, sehingga berpotensi mengurangi waktu dan biaya pengiriman.
Taiwan sendiri mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya. Pada delapan bulan pertama 2026, Australia memasok 34,8 persen impor LNG Taiwan, sementara pangsa Qatar turun menjadi 10,7 persen. Impor LNG dari Amerika Serikat meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 24,5 persen.