Perubahan motivasi traveler juga terlihat jelas. Jika dulu orang bepergian ke luar negeri untuk melihat tempat-tempat terkenal, kini sebagian pelari memiliki alasan tambahan untuk datang ke sebuah kota.

"Dulu orang ke luar negeri pengen lihat ini, lihat itu, foto di landmark ikonik. Sekarang mereka juga ingin pulang dengan medali," kata Icin.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan atlet elite. Banyak pelari rekreasional kini rela menabung dan berlatih berbulan-bulan demi bisa berdiri di garis start marathon impian mereka.

Setelah race selesai, perjalanan biasanya berlanjut dengan menjelajahi destinasi wisata, mencoba kuliner lokal, hingga mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya mereka lihat di media sosial.

Icin mengatakan saat ini traveler tidak hanya mengenang sebuah kota karena bangunan bersejarah atau pusat belanjanya, tetapi juga karena lintasan yang berhasil ditaklukkan dan medali yang berhasil dibawa pulang.

Icin meyakini tren ini masih akan terus berkembang. Menurut dia, minat masyarakat terhadap olahraga lari cenderung stabil bahkan meningkat, berbeda dengan tren olahraga lain yang sering naik turun mengikuti musim.

"Sekarang orang dari luar Jakarta juga banyak banget yang ikut. Fenomenanya tidak turun, malah stabil dan cenderung naik," ujar dia.

Selain WMM, berwisata dengan menandai sebuah kota melalui medali adalah Hyrox. Memang bukan benar-benar medali, mereka yang berhasil menyelesaikan Hyrox bakal diganjar patch lengkap dengan nama kota ajang itu digeber.