NADIKABAR.COM — Setiap Muslim tentu berharap seluruh amal ibadah yang dikerjakannya dapat diterima oleh Allah SWT. Namun, persoalan diterima atau tidaknya suatu amalan pada hakikatnya merupakan perkara gaib yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Meski begitu, seorang Muslim tetap dapat melakukan muhasabah atau introspeksi diri sebagai upaya memperbaiki kualitas ibadah. Refleksi terhadap hati, niat, dan perilaku juga penting agar ibadah yang dilakukan semakin mendekati tuntunan yang benar.
Lantas, apa saja hal yang dapat menjadi bahan evaluasi terkait ibadah yang dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah SWT?
Menurut Imam al-Ghazali, ibadah dapat memberikan pengaruh positif apabila setelah menjalaninya seseorang semakin menjauh dari pembicaraan mengenai urusan duniawi dan lebih memperhatikan kehidupan akhirat. Selain itu, kecintaannya kepada Allah SWT semakin tumbuh dan syariat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani berbagai aktivitas.
Sebaliknya, apabila setelah beribadah seseorang justru semakin larut dalam urusan dunia dan perilakunya tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, kondisi tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Dalam buku Agar Shalat Dhuhamu Berbuah Kekayaan karya Iqra Al Firdaus disebutkan bahwa ibadah yang tidak dilaksanakan sesuai ketentuan syariat dapat berstatus mardud, atau tidak diterima oleh Allah SWT.
Ibadah yang tertolak tersebut juga disebut tidak akan menghasilkan hikmah maupun rahmat sebagaimana yang diharapkan dari pelaksanaan suatu ibadah.