Kegiatan ACSJC terbagi dalam tiga bidang utama, yakni meningkatkan kesadaran dan membangun jejaring di tingkat keuskupan, pendidikan dan pembinaan, serta penelitian, advokasi, dan kebijakan publik. Peluncuran pernyataan mengenai keadilan sosial melalui media mengajak seluruh komunitas Gereja Katolik untuk bertindak dengan lebih sungguh-sungguh dan menjadikan visi sosial serta ekologis yang terintegrasi dalam Laudato Si' sebagai pedoman.
Pada peringatan ini, individu, lembaga keagamaan, sekolah, dan organisasi yang selama ini aktif menangani persoalan lingkungan mendapatkan apresiasi dan didorong untuk menjadi teladan bagi komunitas Katolik.
Komitmen Gereja Katolik Australia dalam mendorong keterlibatan dan respons nyata dari komunitas Katolik tercermin dalam Social Justice Statement. Australian Catholic Social Justice Council bekerja sama dan memberikan dukungan kepada jaringan kontak nasional yang ditunjuk oleh setiap keuskupan. Lembaga ini juga terus berkoordinasi dengan Dikasteri Takhta Suci untuk Pembangunan Manusia Integral (Dicastery for the Promotion of Integral Human Development).
Sementara itu, Office for Justice, Ecology, and Peace bertanggung jawab menjalankan berbagai inisiatif dan program atas nama para uskup, membantu mereka dalam melakukan advokasi terkait isu keadilan sosial, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial, serta bekerja sama dengan pihak lain untuk mendorong terwujudnya keadilan sosial, ekonomi, dan ekologis.
Hari Kemenangan Turki, yang juga dikenal sebagai Zafer Bayramı, diperingati setiap 30 Agustus. Peringatan ini untuk mengenang kemenangan dalam Pertempuran Dumlupınar pada 1922, yang menjadi salah satu momen penting dalam Perang Kemerdekaan Turki.
Melansir laman National Today, setelah Perang Dunia I berakhir pada 1918, Kesultanan Utsmaniyah terpecah dan wilayahnya dibagi di tim redaksi negara-negara Sekutu. Situasi tersebut semakin diperkuat setelah Perjanjian Sèvres ditandatangani pada 10 Agustus 1920.
Berdasarkan perjanjian tersebut, negara-negara Sekutu memberikan sejumlah wilayah di Turki kepada Yunani. Wilayah tersebut mencakup Anatolia Barat, Imbros yang kini dikenal sebagai Gökçeada, Tenedos yang kini bernama Bozcaada, serta Trakia Timur dan Smyrna yang kini dikenal sebagai İzmir.
Pada Mei 1919, sekitar 20.000 tentara Yunani telah mendarat di Smyrna dan melancarkan serangkaian serangan yang berhasil pada musim panas berikutnya. Salah satu alasan yang dikemukakan pemerintah Yunani adalah adanya populasi umat Kristen Ortodoks berbahasa Yunani dalam jumlah besar di Anatolia yang dianggap membutuhkan perlindungan.
Pada Oktober 1920, pasukan Yunani mulai bergerak semakin jauh ke timur. Sementara itu, pasukan Turki yang kekurangan perlengkapan terus mundur ke wilayah pedalaman Anatolia. Namun, setelah berlangsungnya Pertempuran Sakarya selama 21 hari pada 23 Agustus-13 September 1921, pasukan Yunani tidak lagi mampu melanjutkan serangan dan terpaksa mundur.
Setelah serangkaian pertempuran, termasuk Pertempuran İnönü dan Afyonkarahisar-Eskişehir, pasukan Turki akhirnya melancarkan serangan balasan pada 26 Agustus 1922. Serangan tersebut dikenal oleh masyarakat Turki sebagai Büyük Taarruz atau "serangan besar".
Pada Pertempuran Dumlupınar yang berlangsung pada 30 Agustus 1922, pasukan Turki berhasil mengalahkan pasukan Yunani. Banyak tentara Yunani ditawan, sementara dua jenderal Yunani tewas dalam pertempuran tersebut.
Hari Kemenangan pertama kali diperingati di Turki pada 1923 dan kemudian ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1926. Setiap tahun, upacara militer digelar di Akademi Perang di Istanbul. Parade militer juga diselenggarakan di berbagai kota besar di seluruh Turki untuk memperingati kemenangan tersebut.