Trevino mengatakan pengembangan energi, kesehatan, dan ekonomi masyarakat perlu berjalan seiring dengan pelestarian hutan yang menjadi sumber pangan, air bersih, serta penopang kehidupan masyarakat setempat.
"Hutan yang sehat merupakan rumah bagi semua makhluk hidup dan menjadi sumber pangan serta menyediakan udara yang bersih, oksigen, dan air bersih," ujarnya.
Secara nasional, Kementrans pada Juli 2026 telah menerjunkan 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi untuk menjalankan riset, pendampingan, dan kegiatan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Pengembangan energi bersih di Teluk Wondama juga sejalan dengan kebijakan pemerintah memperluas pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), terutama untuk memperkuat pasokan listrik di wilayah terpencil.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan gagasan pengembangan PLTS berkapasitas satu megawatt di setiap desa yang memiliki lahan memadai sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Pada 25 Agustus 2026, pemerintah meluncurkan program pengembangan PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp), dengan tahap awal mencakup 14 proyek berkapasitas total 5,3 GWp di enam provinsi.
Melalui pengembangan energi terbarukan yang dipadukan dengan pelayanan kesehatan dan penguatan ekonomi lokal, TEP UI mendorong kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur menjadi wilayah yang lebih mandiri dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.