NADIKABAR.COM — Pemenuhan pakan ternak masih menjadi tantangan bagi peternak sapi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Menjawab persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pelatihan pengolahan pelepah sawit menjadi silase.

Melalui kegiatan ini, peternak transmigran dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah limbah perkebunan menjadi pakan ternak. Adapun limbah pelepah kelapa sawit yang tersedia di sekitar perkebunan diolah menjadi silase sebagai pakan alternatif untuk menekan biaya pemeliharaan sapi.

Pelatihan tersebut mendapat sambutan positif dari para peternak. Salah seorang peternak di SP4 Prafi, Misno berharap ada dukungan tenaga untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.

"Saya senang dengan adanya program ini karena dapat memanfaatkan pelepah sawit. Menurut saya, program ini sangat bagus. Akan tetapi, untuk proses berkelanjutan, kami masih kekurangan orang-orang yang membantu dalam proses pembuatan silase," ujar Misno dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

Selain menjadi pakan alternatif, silase dapat membantu menghemat tenaga peternak karena dapat mengurangi kebutuhan mencari rumput setiap hari. Setelah melalui proses fermentasi selama 21 hari, pelepah sawit dapat disimpan sebagai cadangan pakan untuk memenuhi kebutuhan ternak saat rumput sulit diperoleh, baik akibat hujan maupun kemarau panjang.

Inisiatif TEP UNAIR tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga dan meningkatkan produksi pangan nasional. Upaya tersebut mencakup peningkatan hasil produksi, perluasan lahan produksi, serta hilirisasi guna memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Arahan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, 24 Juni lalu.

Sejalan dengan arahan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan.

"Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan," papar AHY.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan program Transmigrasi Patriot harus mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat. Dengan begitu, hasil riset dan inovasi dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kawasan transmigrasi.

"Transmigrasi Patriot bukanlah program elite. Ini cara negara memastikan ilmu pengetahuan hadir di lapangan, bekerja bersama rakyat, dan menghasilkan nilai ekonomi nyata, bukan hanya laporan akademik," pungkas Iftitah.