NADIKABAR.COM — Moksibusi sensitif panas (heat-sensitive moxibustion) menjadi topik hangat di kalangan pakar pengobatan tradisional Indonesia dalam Forum Pengobatan Tradisional Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) 2026 yang baru saja berakhir di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur.Para pakar Indonesia yang menghadiri forum tersebut menyampaikan harapan untuk membawa moksibusi sensitif panas dan berbagai terapi khas pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM) lainnya ke Indonesia, guna mendorong pengembangan terpadu antara TCM dan pengobatan tradisional Indonesia serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat kedua negara."Hal yang paling mengesankan bagi saya dalam forum ini adalah moksibusi sensitif panas," kata Maya Septriana Tjin, ketua Perkumpulan Pendidikan Tinggi Kesehatan Tradisional Indonesia (PPTKTI) sekaligus profesor di Universitas Airlangga. Dia mengatakan bahwa hanya sedikit masyarakat di Indonesia yang mengenal terapi tersebut. "Saya ingin mempelajari moksibusi sensitif panas dan membawa teknik pengobatan tersebut kembali ke Indonesia," ujarnya.

Pada 1996, Maya pergi ke Beijing untuk mempelajari TCM dan akupunktur.

Dia datang ke Jiangxi pada 2023 untuk menempuh pendidikan doktoral, dan ini merupakan kali pertamanya menghadiri Forum Pengobatan Tradisional SCO.