Penelitian lain terhadap pasangan kembar remaja menemukan adanya hubungan tim redaksi paparan sinar matahari dan kepadatan tahi lalat. Kelompok dengan paparan matahari lebih tinggi cenderung memiliki jumlah tahi lalat yang lebih banyak.

Menariknya, bukan berarti semakin sering berada di bawah matahari, seseorang pasti memiliki semakin banyak tahi lalat. Respons kulit terhadap sinar ultraviolet juga berbeda pada setiap orang.

Oleh karena itu, faktor genetik dan lingkungan dapat saling berinteraksi, sehingga jumlah tahi lalat seseorang tidak bisa dijelaskan hanya dari seberapa sering ia terkena matahari.

Tahi lalat juga dapat muncul dan bertambah terutama sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Seiring bertambahnya usia, beberapa tahi lalat dapat berubah ukuran, warna, atau bentuk. Jadi, kulit yang dulu hanya memiliki sedikit titik bisa saja memiliki beberapa "penghuni baru" ketika seseorang beranjak dewasa.