NADIKABAR.COM — Legenda Arsenal Thierry Henry mengaku senang mendapatkan kesempatan memimpin para legenda The Gunners sebagai pelatih dalam laga antara North London Legends melawan United Legends di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu.
Di laga bertajuk "Champions Impact In Jakarta: The Rivalry Returns" antara legenda-legenda Arsenal dan Manchester United ini, North London Legends yang diasuh Henry meraih kemenangan 3-2 atas United Legends.
"Pada akhirnya, semua orang ingin menang. Semua orang turun ke lapangan dan kami tidak menyerah begitu saja dengan mudah dan ramah, lalu kita lihat hasilnya di akhir laga. Semua orang ingin menang," kata Henry pada jumpa pers setelah pertandingan usai.
"Udaranya juga sangat lembap. Tapi secara keseluruhan, ini menyenangkan. Bisa melihat semua orang, Arsenal, bahkan tim lawan," kata dia.
Pada laga ini, United Legends memimpin lebih dulu melalui gol Ashley Young pada menit kelima. North London Legends kemudian menyamakan kedudukan pada menit ke-10 lewat Emmanuel Adebayor, dan berbalik unggul pada menit ke-28 lewat gol Santi Cazorla.
United Legends sempat menyamakan kedudukan menjadi 2-2 saat Radamel Falcao mencetak gol pada menit ke-64, sebelum kemudian gol kemenangan North London Legends malam ini ditentukan oleh gol Jermaint Pennant pada menit ke-74.
Henry kemudian memuji atmosfer yang tercipta di GBK. Menurut dia, dukungan suporter MU terdengar dominan pada awal pertandingan sebelum para penggemar Arsenal ikut menyuarakan dukungan ketika tim mereka mulai mencetak gol demi gol.
"Sangat luar biasa. Di awal laga, penonton Manchester United sangat mendominasi. Banyak nyanyian terdengar dari tribun mereka, lalu ketika kami mulai mencetak gol, Anda bisa mendengar keriuhan juga dari pihak kami. Semuanya terasa bagus," kata Henry, yang mengantarkan Arsenal juara Liga Inggris tanpa terkalahkan pada musim 2003/2004 itu.
Saat ditanya apa yang ia katakan kepada tim sebelum dan saat jeda antar babak, Henry mengatakan dirinya menyebut pemahaman soal kondisi fisik menjadi salah satu pertimbangan utamanya dalam menentukan pendekatan permainan.
Menurut dia, para pemain perlu memahami kemampuan tubuh masing-masing di usianya saat ini, termasuk kapan harus berlari membuka ruang, menahan bola, atau membantu pertahanan.
"Ini soal mendengarkan kondisi tubuh Anda, yang sayangnya menjadi kendala bagi kami di usia sekarang. Kami mencoba mencari tahu siapa yang bisa berlari membuka ruang di belakang, siapa yang bisa menahan bola, dan siapa yang bisa bertahan," kata Henry.
"Namun fokus utamanya adalah jangan kehilangan bola. Karena dalam laga seperti ini, saat Anda kehilangan bola dan permainan mulai merenggang, situasinya akan menjadi terlalu terbuka," tambah dia.
"Mereka bertahan dengan sangat baik, tetapi terkadang Anda masih tergiur oleh ruang kosong untuk maju. Saya paham temponya mungkin tidak secepat yang ingin Anda saksikan, tapi udara di luar sana sangat lembap dan orang-orang ini sudah tidak bisa berlari seperti dulu lagi, jadi kami harus menjaga kerapatan formasi tim," kata dia.