Dalam perkembangannya, selain sebagai upacara penobatan raja, Erau juga menjadi bagian dari pemberian gelar oleh raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.

Sampai kini, tradisi tersebut tetap dirawat. Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan Erau bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga warisan yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.

"Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya. Erau adalah warisan yang hidup, yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengajarkan bagaimana menghormati leluhur, setia pada adat, bersatu sesama warga, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, serta Sang Pencipta," ujarnya.