Detakan tersebut biasanya hilang dalam waktu singkat, hanya sekitar 2-3 detik. Sensasinya dapat terasa seperti kendaraan yang melaju kencang kemudian mengalami sedikit getaran.
"Tapi yang paling khas adalah rasa kayak hilang. Denyutannya itu kayak lompat atau kayak kalau orang Bali bilang mecepol, syeng gitu rasanya kayak denyutan di dada itu kayak ada mau copot, mau jatuh. Itu yang paling sering sih keluhannya," katanya.
Meski begitu, Putra menyebut sebagian besar gangguan irama jantung tidak mengancam nyawa. Namun, kondisi tersebut tetap dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.
"Kebanyakan gangguan irama jantung itu tidak mengancam nyawa, artinya tidak membahayakan. Tapi kalau gangguan irama jantung kita lebih banyak berbicara masalah kualitas hidup," imbuhnya.
Menurutnya, rasa tidak nyaman akibat aritmia dapat mengganggu konsentrasi hingga kualitas tidur pasien.