Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr Gatot Abdurrazak, menjelaskan bahwa kemampuan terapi janin di RSAB Harapan Kita telah dibangun selama bertahun-tahun. RSAB Harapan Kita mulai melakukan transfusi intrauterin sejak 2005 dan mengembangkan tindakan fetoskopik sejak 2011.

"Untuk pasien ini, datang dikirim oleh sejawat dengan kelainan spina bifida pada usia kehamilan 18 minggu. Ini menjadi kesempatan untuk melakukan repair karena waktunya hanya sampai 26 minggu. Kami bergerak cepat dan mendapat dukungan penuh dari manajemen serta seluruh tim," ujar dr Gatot.

Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr Alfi Aulia Rahmah, menjelaskan bahwa myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat. Tindakan perbaikan sejak masih dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk hidrosefalus.

"Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan," jelas dr Alfi.