NADIKABAR.COM — Warga Kampung Werianggi kini dapat merasakan aliran listrik lebih lama berkat pemasangan panel tenaga surya di Balai Kampung. Sementara itu, tenaga kesehatan di Puskesmas Nikiwar dan Windesi, Kabupaten Teluk Wondama mulai beralih dari pencatatan kertas ke rekam medis elektronik.
Di sisi lain, kotoran sapi milik warga juga mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas. Berbagai upaya tersebut merupakan bagian dari satu kerangka besar bernama Planetary Health. Konsep tersebut menekankan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hutan dan lingkungan di sekitarnya.
Pembina Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) di Kabupaten Teluk Wondama, Dr. Trevino Aristarkus Pakasi, menjelaskan kerangka tersebut lahir dari pengamatan langsung di lapangan selama Agustus-November 2026.
"Hutan yang sehat akan mencegah bencana alam. Hutan yang sehat merupakan rumah bagi semua makhluk hidup dan menjadi sumber pangan serta menyediakan udara yang bersih, oksigen, dan air bersih," kata Dr. Trevinodalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10/2026).
Berdasarkan pantauan TEP UI, kerusakan hutan di Teluk Wondama masih berlangsung akibat kebakaran dan aktivitas industri kayu. Kondisi tersebut turut berdampak pada warga yang mengandalkan kebutuhan pangan dari hasil hutan.
Karena itu, TEP UI mengembangkan empat pendekatan secara bertahap di wilayah Werianggi-Werabur. Pertama, menyediakan akses listrik selama 24 jam melalui pemanfaatan tenaga surya dan biogas dari kotoran sapi. Program ini dipimpin oleh Ardiyansyah bersama timnya.
Kedua, melakukan digitalisasi layanan kesehatan hingga menjangkau kader posyandu di bawah koordinasi tim Dr. Trevino. Ketiga, menjaga kelestarian sumber pangan hutan, seperti sagu dan umbi-umbian. Keempat, mengolah hasil bumi agar nilainya naik, termasuk pengolahan limbah industri pala agar tidak terbuang sia-sia.
"Planetary Health sebagai kerangka pembangunan ekonomi bukanlah sebuah program tambahan. Energi adalah fondasinya, sistem pangan dan ekonomi lokal adalah jalur intervensinya, sedangkan kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan menjadi dimensi hasil yang dinilai," ujar Dr. Trevino.
Salah satu manfaat program ini dirasakan langsung oleh warga setempat, Obeth O., melalui pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas untuk kebutuhan memasak.
"Hadirnya pelatihan biogas dari limbah kotoran sapi berguna bagi masyarakat. Pertama kali ada pelatihan ini, kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk masak," ujar Obeth.
Manfaat serupa turut dirasakan pada sisi layanan kesehatan. Tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, Ns. Siti Harlina, mengaku pelatihan digitalisasi yang diberikan tim sangat membantu pekerjaannya sehari-hari.
"Setelah mengikuti kegiatan pelatihan ini, saya merasa sangat terbantu. Pelatihannya jelas, mudah dipahami, dan sangat relevan dengan kegiatan di puskesmas," ujarnya.
Ia berharap pelatihan ini dapat terus diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, dan program dari Tim Patriot Kementerian Transmigrasi bisa terus berlanjut.
Kawasan seperti Teluk Wondama berpotensi menjadi 'laboratorium alam' bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk belajar keanekaragaman hayati sekaligus pembangunan berkelanjutan, sambil tetap menjaga hutan dan memberi nilai ekonomi bagi warga setempat. Upaya TEP UI ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas energi surya hingga ke desa-desa terpencil.
"Dengan PLTS kita juga bisa bangun kemandirian energi kita. Idealnya, setiap desa ada PLTS 1 Mega Watt," kata Presiden Prabowo.
Hal tersebut disampaikan dalam Penyampaian RAPBN 2027 di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8).
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pembangunan ekonomi di kawasan transmigrasi tidak boleh mengorbankan lingkungan.
"Pembangunan ekonomi tidak boleh dengan merusak lingkungan," ujar AHY.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Sosialisasi Transmigrasi Patriot di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (17/5).
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, turut menegaskan transmigrasi kini berubah arah menjadi program yang ramah lingkungan.
"Jika dulu program transmigrasi selalu dipersepsikan tidak ramah lingkungan, maka hari ini kita telah melakukan sebuah transformasi transmigrasi menjadi program yang sangat ramah lingkungan," pungkas Iftitah.
Hal tersebut disampaikan Iftitah saat meninjau kawasan konservasi Samboja Lestari, Jumat (12/6).