"Banyak hal yang sebelumnya kami belum tahu tentang lebah trigona ini. Dengan adanya pelatihan ini, ke depan merupakan prospek yang menjanjikan, yang bisa menambah nilai ekonomi," tutur Ading.
Para peserta menjalani pelatihan serta menginap selama dua hari di Desa Cempaka Putih. Dalam kegiatan tersebut, mereka mempelajari karakteristik trigona, cara mengelola koloni, dan teknik pemanenan, hingga praktik membuat stup atau rumah lebah dari kayu dan bambu.
Praktik tersebut berlanjut di rumah masing-masing. Setiap peserta membuat dua stup sendiri dan sebagian bahkan berkreasi menyambungkan selang dari sarang alami di pohon kelapa menuju stup buatan mereka.
Tim kemudian membagikan tiga stup berisi koloni dan memantaunya sembilan kali di tujuh lokasi sepanjang Agustus hingga September. Dari pemantauan itu terlihat bahwa ketersediaan pakan sangat menentukan hasil panen.
Warga Cempaka Putih Muhammad Sholeh sudah memelihara trigona selama dua tahun baru memanen sekitar 200 mililiter madu karena pakan di sekitar sarangnya kurang. Oleh karena itu warga kini didorong menyisihkan pohon buah yang tidak disemprot pestisida sebagai sumber pakan lebah.