NADIKABAR.COM — Tim panahan Indonesia membidik target lebih tinggi di Asian Para Games 2026. Jika edisi lalu mereka mengantongi dua perunggu, di Nagoya mereka menargetkan menembus final dari sembilan nomor yang diikuti.

Asian Para Games di Nagoya, Jepang, akan dimulai 18-24 Oktober 2026. Tim panahan Indonesia terus beradaptasi dengan lingkungan pertandingan.

Pada sesi latihan perdana di Okazaki Chuo Sogo Park, Kamis (15/10/2026), tim Merah Putih bahkan harus menyesuaikan diri dengan suhu pagi 16 derajat celsius dan angin tipis yang kerap membelokkan anak panah.

Meski begitu, para atlet mampi beradaptasi dengan cepat. Mereka juga percaya diri dengan persiapan yang telah dilakukan.

Pelatih para panahan Indonesia, Rameez Ali Surya Negara, mengatakan persiapan tim berjalan mulus. Berbeda dari kebiasaan yang sering langsung bertanding sehari setelah tiba, rombongan kali ini mendapat satu hari istirahat penuh karena berangkat dari Indonesia dengan pesawat carter.

Venue di Okazaki pun dinilainya tidak jauh berbeda dengan lapangan latihan di Solo, baik karakter angin maupun jarak. Pembeda utamanya hanya suhu, 16-20 derajat di pagi hari dibanding 25-27 derajat di Indonesia pada jam yang sama.

"Tantangan terbesar datang dari angin yang membuat anak panah kadang bergeser di tiga per empat jarak, tetapi para atlet sudah bisa mengatasinya," kata Rameez dalam keterangan tertulisnya.

Rameez menyebut Asia sebagai mini Paralimpiade karena sekitar 80 persen atlet panahan terbaik dunia berasal dari Asia, dengan India dan China sebagai pesaing terberat.

"Di Hangzhou itu pertama kali kita mendapatkan medali, walaupun perunggu. Insyaallah di Asian Para Games ini kita menargetkan dua final, dan bismillah bisa satu emas. Pesaing kami terberat adalah India dan China," ungkap dia.

Adapun dua tiket final yang dimaksud yakni men's individual compound lewat Ken Swagumilang dan men's doubles recurve lewat duet Setiawan/Kholidin.

Sementara itu, atlet para panahan divisi recurve, Kholidin, menegaskan persiapannya sudah tuntas, baik dari sisi teknik maupun fisik.

"Kalau untuk persiapan, Alhamdulillah kita sudah siap, sangat siap. Sudah 100 persen. Fisik juga sudah siap, alhamdulillah," tegasnya.

"Suhunya tadi pagi lumayan dingin, 17-18 derajat. Jadi saya datang paling pagi supaya adaptasi. Kami kan enggak tahu jadwal pertandingan, terkadang di pagi, kadang di siang. Jadi kami mencoba pagi dulu," ujarnya.

"Kami yang penting berusaha semaksimal mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin. Kami bisa menang," katanya mantap.

Kholidin bahkan membawa target pribadi yang belum tercapai. Dia sudah tampil di ASEAN Para Games di Thailand dan Solo, tetapi di Asian Para Games Hangzhou dia harus pulang tanpa medali.

Ia berharap, di Asian Para Games kali ini targetnya mendapatkan emas bisa tercapai.

"Target impian saya adalah mendapatkan emas Paralympic. Saya ingin seperti pejuang-pejuang kita terdahulu. Beliau berjuang untuk negara dengan melawan penjajah, tapi kalau saya untuk olahraga," tuturnya.

"Tolong doain selalu, sehat selalu, dan doakan supaya menang. Dan untuk teman-teman Indonesia, supaya saya bisa menjadi inspirasi dan bisa mendapatkan emas untuk memotivasi teman-teman," harap Kholidin.