Kapten Smit Machchhar mengatakan dirinya tergeletak di lantai dalam keadaan terluka ketika menyadari pesawat terus kehilangan ketinggian dan dia harus bertindak.
"Saya berkata kepada diri sendiri untuk melakukan satu upaya terakhir guna membuka pintu dari dalam," katanya.
Tindakan itu memungkinkan para penumpang masuk ke kokpit.
Dua pilot cadangan kemudian menerbangkan pesawat dan mendaratkannya dengan selamat di Arab Saudi.
Kapak darurat biasanya disimpan di kokpit untuk digunakan dalam keadaan darurat.
Pemerintah India memuji Kapten Smit Machchhar (foto atas) terhadap "keberaniannya yang luar biasa" saat menghadapi serangan tersebut (Embassy of India in Israel)
Senjata yang digunakan dalam serangan tersebut menjadi salah satu pertanyaan utama bagi penyelidik, mengingat ketatnya pengamanan pada rute tersebut.
Laporan awal dari sejumlah penumpang sempat menyebut senjata yang digunakan kemungkinan adalah pisau.
Jaksa Agung UEA mengatakan kepada media pemerintah bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap secara menyeluruh situasi dan motif di balik insiden tersebut.
Kopilot yang melakukan serangan itu merupakan warga negara Oman, menurut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sejumlah media, termasuk Reuters, NadiKabar, dan The New York Times, menyebut kopilot itu bernama Hamam al-Hammami. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai identitasnya.
Ketika bekerja di maskapai lain, Oman Air, media AS melaporkan bahwa Al-Hammami dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena kekhawatiran terkait pandangan radikalnya. Dia kemudian diberi posisi lain di maskapai nasional Oman tersebut.
Otoritas Australia pada Minggu mengonfirmasi tengah menyelidiki "keterkaitan" Al-Hammami dengan negara itu, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Australian Broadcasting Corporation (ABC), mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa dia mendapat visa pelajar pada 2014 dan menempuh pendidikan di Australia antara 2015 dan 2017 sebelum meninggalkan negara tersebut.
Menurut ABC, visa pelajarnya dibatalkan pada 2019 karena saat itu dia tidak terdaftar dalam program pendidikan.
ABC juga melaporkan bahwa pejabat kontraterorisme akan menyelidiki apakah pria tersebut mengalami radikalisasi di Australia.
Dia kemudian menyelesaikan program pendidikan jarak jauh selama tiga tahun yang diselenggarakan Buckinghamshire New University di Inggris dan lulus dengan gelar manajemen penerbangan pada 2023, menurut universitas tersebut.
Pihak universitas menambahkan bahwa dia tidak menjalani pelatihan pilot di sana.
Dalam wawancara dengan Fox News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa setelah pelaku berhasil dilumpuhkan di dalam pesawat, dia berteriak kepada awak pesawat: "Bunuh saya, bunuh saya!"