"Proses identifikasi mayat, Kabiddokkes Polda Bengkulu berkomunikasi dengan Kabiddokes Polda Banten, disepakati untuk dilakukan identifikasi serta pencocokan oleh tim DVI terkait data antemortem dari 8 keluarga korban kapal Arupadhatu terhadap seorang mayat Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano Bengkulu, baik meliputi data primer, yaitu sidik jari, gigi dan DNA," katanya.
Basarnas diketahui menghentikan pencarian rombongan jurnalis setelah melakukan operasi selama 10 hari. Sejauh ini, Basarnas menyatakan belum ada tanda-tanda operasi pencarian dibuka kembali setelah penemuan jasad ABK tersebut.
"Masalah pencarian ulang atau tidak, seperti yang kami sampaikan tadi, Pak. Secara aturan, pencarian kami itu terlaksana selama tujuh hari. Selama tujuh hari kita sudah perpanjang tiga hari. Di tujuh hari itu, kita menemukan jelajah pada tanggal 12. Nah, sampai tanggal 14 kita evaluasi, kita perpanjang tiga hari. Setelah tiga hari itu, tidak ada tanda-tanda korban, makanya kita lakukan dengan tindak lanjut e-broadcast dan pemantauan," kata Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad kepada wartawan.
Amrad menyebut saat ini Basarnas Banten berkoordinasi dengan Basarnas Bengkulu dan Lampung untuk mencari informasi di area pesisir. Tindakan itu dilakukan setelah operasi pencarian tim SAR gabungan dihentikan pada 17 September 2026.
"Jadi, kalau untuk perpanjangan dan hingga saat ini, hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung yang untuk wilayah pesisir dan para nelayan yang ada di sekitar," katanya.
Menurut Amrad, saat ini belum ada informasi keberadaan tujuh orang lainnya maupun keberadaan kapal Arupadhatu 1. "Hingga saat ini Bengkulu masih melaksanakan koordinasi dan itu nihil, termasuk yang di wilayah Lebak," imbuhnya.
Pihak keluarga Surakman menunggu jasad korban tiba di rumah duka di Pandeglang, Banten. Jenazah Surakman rencananya akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ki Demang, Carita, Pandeglang.