Selain memiliki kekayaan geologi, kawasan konservasi ini menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna endemik Sulawesi, di antaranya kera hitam Sulawesi (Macaca maura) dan kuskus beruang.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga menawarkan daya tarik wisata alam berupa air terjun serta jaringan gua alam dengan kekayaan stalaktit, stalagmit, dan nilai arkeologi yang memperkuat potensi kawasan sebagai destinasi wisata alam, edukasi, dan konservasi.
Keunggulan tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan Bantimurung Bulusaraung sebagai destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang tetap menempatkan pelestarian lingkungan serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengelolaannya.
Pada kesempatan itu, Ni Luh turut memeriksa sejumlah fasilitas yang tersedia bagi wisatawan serta berdiskusi dengan para pelaku usaha pariwisata lokal, pengelola kawasan, serta pemandu wisata. Diskusi tersebut membahas strategi penguatan kapasitas pelaku pariwisata serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat di sekitar taman nasional agar dapat semakin berperan dalam pengembangan pariwisata kawasan.