"Personel juga tetap melakukan pemantauan setelah api berhasil dipadamkan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala," tegasnya.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui komunikasi sosial dengan masyarakat di wilayah rawan kebakaran. TNI memberikan edukasi agar warga tidak melakukan pembakaran secara sembarangan saat membuka lahan, terutama pada musim kemarau.

"Selain patroli, kami juga mendorong pemasangan baliho di sejumlah titik rawan sebagai bagian dari sosialisasi pencegahan karhutla. Kesiapsiagaan personel ditingkatkan agar laporan kebakaran dapat segera ditindaklanjuti," paparnya.

Hendra menyebut kebakaran di kawasan Gunung Tabaro menghanguskan sekitar 27 hektare lahan, kawasan Latimojong sekitar 7,5 hektare dan Bambapuang sekitar 10 hektare. Adapun dampak kebakaran yang terluas terjadi Kawasan Gunung Lakawan dengan luasan kebakaran sekitar 35 hektare.

"Ada beberapa titik kebakaran yang terjadi selama sebulan terakhir mulai Juli sampai awal September dengan total 215,5 hektare. Yang terparah mengalami kebakaran di kawasan Gunung Lakawan dengan luas kebakaran kurang lebih 35 hektare," rincinya.