Nunung tinggal di tenda terpal sejak hari pertama mengungsi. Kondisi ini membuat Nunung khawatir dengan kesehatan kedua bayinya. Apalagi mereka hanya mengandalkan satu selimut.
"Dengan siang banyak sekali debu. Pingin sekali ada tenda yang layak seperti yang itu karena angin tidak masuk saat tidur siang dan malam. Kalau bisa kasih kasur juga karena saya ini kan ada anak bayi, kasihan juga anak tidur di terpal saja," terang Nunung.
Selain kebutuhan mendasar itu, pengungsi lainnya, Ahmad, juga kesulitan mencari kayu api untuk memasak. Ketersediaan kayu api yang minim membuat mereka mengupas kulit kayu yang mental lalu menjemurnya.
"Begini sudah. Kami potong kulitnya biar cepat kering baru bisa pakai untuk masak karena sudah beberapa hari kami tidak ada kayu api untuk masak," jelas Ahmad.