NADIKABAR.COM — Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani (FWLR), Royal Sembahulun, menolak kebijakan pembatasan pendakian di Gunung Rinjani, Lombok Timur, NTB. Kebijakan tersebut dinilai merugikan para pengusaha jasa wisata.
Royal menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) berdampak pada ekonomi masyarakat khususnya para pelaku wisata di Gunung Rinjani.
"Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan kunjungan wisatawan yang berkurang, pembatasan ini tentu sangat memberatkan. Jangan sampai kebijakan yang dikeluarkan justru merugikan masyarakat," tegas Royal, Rabu (2/9/2026).
Selama ini, Royal melanjutkan, lebih dari 1.000 orang porter, sekitar 600 guide, serta lebih dari 200 tour operator (TO), menggantungkan aktivitas ekonominya di Gunung Rinjani. Dampaknya juga berpotensi dirasakan sektor transportasi, hotel, dan usaha wisata lainnya.
"Ketika wisatawan sudah berada di Indonesia, mereka bisa mendapatkan informasi tentang Rinjani, kemudian tertarik dan melakukan booking. Kalau booking ditutup, rantai ekonomi ini ikut terputus," imbuhnya.
Royal menegaskan pihaknya mendukung langkah pemerintah dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, penerapan kebijakan tersebut di Gunung Rinjani dinilai perlu dievaluasi, karena kondisi kawasan Gunung Rinjani dinilai berbeda dengan wilayah lain yang mengalami ancaman karhutla.