Jembar menjelaskan, proses pemadaman menghadapi kendala cukup berat di lapangan. Selain tumpukan sampah yang tebal dan sifat material yang mudah terbakar, keterbatasan sumber air di sekitar lokasi memaksa armada pemadam harus melakukan pengisian ulang air berulang kali dengan jarak yang cukup jauh.

Kendati demikian, petugas berhasil melokalisasi pergerakan si jago merah sehingga kobaran api tidak meluas ke permukiman warga sekitar.

"Alhamdulillah, api berhasil kami lokalisasi sehingga tidak sampai merambat ke area permukiman warga. Namun, karena tebalnya asap, kami mengimbau masyarakat di sekitar lokasi untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna menghindari gangguan pernapasan," kata Jembar.

Secara terpisah, Kepala UPTD Damkar Kabupaten Tasikmalaya Agus Toni menyebutkan penyebab pasti munculnya titik api masih dalam penyelidikan. Namun, berdasarkan indikasi awal di lapangan, api diduga dipicu oleh gesekan atau reaksi dari limbah baterai bekas yang terpapar panas di tengah tumpukan sampah. Tumpukan sampah yang mengandung gas metana mudah menyebabkan percikan api.

"Penyebab sementara diperkirakan berasal dari baterai bekas. Kan ada gas metan, meledak jadi ada api. Banyaknya barang-barang yang mudah terbakar di dalam tumpukan sampah membuat material cepat menyala dan api merambat dengan sangat cepat," terang Agus.