Nah, kalikan aktivitas tersebut dengan jutaan pengguna. Di sinilah kebutuhan komputasi mulai menjadi persoalan skala. Foto yang terlihat ringan di layar bisa berarti jutaan proses komputasi yang berlangsung di pusat data.
Apalagi generative AI kini tidak hanya digunakan untuk membuat foto. Orang juga memakainya untuk membuat ilustrasi, video, animasi dan berbagai konten dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.
Bukan cuma listrik, ada satu kebutuhan AI lainnya yang jarang terlihat, air. Server di pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika bekerja. Panas tersebut harus dibuang agar perangkat tidak mengalami overheating.
Air digunakan pusat data sebagai salah satu sistem pendinginan. Penelitian dari University of California, Riverside mengenai jejak penggunaan air oleh AI menunjukkan bahwa konsumsi air dapat menjadi bagian signifikan dari jejak lingkungan sistem AI.
Namun, jumlahnya sangat bergantung pada lokasi pusat data, teknologi pendinginan dan sumber listrik yang digunakan. Karena itu, klaim seperti 'satu foto AI menghabiskan sekian mililiter air' tidak sepenuhnya benar, karena kondisinya tidak sesederhana itu.
Pusat data yang menggunakan sistem pendingin berbeda, berada di lokasi berbeda atau mendapatkan listrik dari sumber berbeda dapat memiliki jejak air dan karbon yang berbeda pula.
Dampak lingkungan AI juga tidak berhenti pada listrik yang digunakan ketika gambar dibuat. Pusat data membutuhkan GPU, server, chip, sistem penyimpanan dan perangkat jaringan. Semua perangkat tersebut harus diproduksi.
Artinya, ada rantai panjang sebelum sebuah prompt menghasilkan foto di layar pengguna. Mulai dari pengambilan bahan mentah, produksi semikonduktor, pembuatan perangkat keras, pembangunan pusat data, transportasi hingga pengelolaan perangkat ketika sudah tidak digunakan.