NADIKABAR.COM — Bagi sebagian warga kota, sepeda mungkin awalnya hanya digunakan untuk olahraga pada akhir pekan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fungsi sepeda perlahan berubah.
Sepeda mulai masuk ke berbagai aktivitas perkotaan, mulai dari berangkat kerja, menuju stasiun, berbelanja, bertemu teman, hingga sekadar berkeliling menikmati suasana kota.
Perubahan tersebut membuat sepeda tidak lagi hanya dipandang sebagai alat olahraga. Sepeda juga menjadi bagian dari cara masyarakat bergerak dan menikmati ruang kota.
Tren ini masih terlihat pada 2026. Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia, misalnya, kembali mendorong penggunaan sepeda sebagai alat transportasi harian sekaligus meminta agar jalur sepeda di Jakarta dipertahankan, diperluas dan terintegrasi dengan kawasan permukiman, perkantoran serta transportasi umum.
Salah satu perubahan paling mudah terlihat adalah semakin beragamnya alasan orang menggunakan sepeda.
Jika dulu sepeda identik dengan aktivitas olahraga atau rekreasi, kini sebagian pesepeda menggunakannya untuk perjalanan sehari-hari. Bagi mereka, sepeda menjadi alternatif untuk menempuh jarak tertentu tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan bermotor.
Konsep bike to work menjadi salah satu contohnya.
Bersepeda menuju tempat kerja bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga cara untuk menggabungkan aktivitas fisik dengan perjalanan yang memang harus dilakukan.
Di tengah kepadatan lalu lintas kota, sepeda juga memberikan pilihan mobilitas untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah. Karena itu, kebutuhan pesepeda perkotaan pun ikut berubah. Mereka tidak selalu mencari sepeda dengan spesifikasi balap, tetapi juga sepeda yang nyaman, praktis dan mudah digunakan sehari-hari.
Jalur sepeda menjadi bagian dari wajah kota
Ketika semakin banyak orang menggunakan sepeda, kebutuhan terhadap ruang yang aman juga ikut muncul.
Jakarta telah memiliki jalur dan lajur sepeda yang menjadi bagian dari infrastruktur transportasi kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut penyediaan jalur sepeda sebagai salah satu upaya mendorong mobilitas yang lebih ramah lingkungan.
Namun, perkembangan infrastruktur sepeda juga terus menjadi bahan pembahasan.
Pada Agustus 2026, Pemprov DKI menyatakan masih menerima masukan dari komunitas dan berbagai pihak mengenai jalur sepeda di sejumlah ruas jalan Jakarta. Pemerintah juga mengakui terdapat jalur yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Artinya, keberadaan sepeda di kota tidak hanya berkaitan dengan jumlah pesepeda. Infrastruktur, konektivitas dan keamanan jalan juga menjadi bagian dari ekosistem yang menentukan apakah sepeda bisa digunakan sebagai moda transportasi sehari-hari.
Sepeda dan transportasi publik mulai saling melengkapi
Sepeda juga semakin sering dibicarakan dalam konteks transportasi publik.
Untuk perjalanan perkotaan, sepeda tidak selalu harus digunakan dari titik awal hingga tujuan akhir. Pesepeda dapat menggunakannya untuk mencapai halte atau stasiun, kemudian melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum.
Konsep semacam ini membuat sepeda berpotensi menjadi bagian dari sistem mobilitas yang lebih luas.
Di Jakarta, integrasi antara sepeda dan transportasi publik juga menjadi salah satu isu yang terus berkembang. Bahkan, ITDP Indonesia pada 2026 kembali membahas kemungkinan hadirnya layanan sepeda sewa di Jakarta dan menyoroti pentingnya ekosistem pendukung agar layanan tersebut dapat berjalan.
Jadi, sepeda di kota tidak harus selalu berdiri sendiri. Ia bisa menjadi bagian dari perjalanan yang melibatkan berbagai moda transportasi.
Gowes juga menjadi aktivitas sosial
Perubahan fungsi sepeda tidak membuat sisi rekreasinya hilang.
Justru, aktivitas bersepeda semakin dekat dengan komunitas. Gowes bersama, night ride, kegiatan sosial, hingga acara bersepeda yang melibatkan berbagai komunitas menjadi bagian dari kultur sepeda di kota.
Pada titik ini, sepeda berfungsi sebagai alat untuk bertemu orang lain.
Seseorang bisa saja membeli sepeda karena ingin berolahraga, tetapi kemudian menemukan komunitas, teman baru dan rute-rute yang sebelumnya tidak pernah dikunjungi.
Tren bersepeda pada 2026 juga menunjukkan bahwa jenis sepeda yang digunakan semakin beragam. Road bike, MTB, gravel, sepeda lipat hingga sepeda hybrid memiliki pengguna dan karakter komunitas masing-masing. RRI mencatat geliat bersepeda kembali terlihat di Indonesia dan tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga gaya hidup serta aktivitas komunitas.
Kota menjadi ruang untuk menikmati perjalanan
Ada satu hal lain yang membuat sepeda menarik bagi kehidupan kota, yaitu cara pandang terhadap perjalanan.
Menggunakan kendaraan bermotor sering kali membuat seseorang hanya memikirkan bagaimana secepat mungkin mencapai tujuan. Dengan sepeda, perjalanan bisa terasa lebih dekat dengan lingkungan sekitar.
Pesepeda dapat melihat perubahan suasana jalan, menemukan kedai kecil, melewati taman, menyapa komunitas lain atau sekadar menikmati kawasan yang biasanya dilewati tanpa berhenti.
Karena itu, tren bersepeda perkotaan tidak selalu berkaitan dengan kecepatan atau jarak.
Ada orang yang bersepeda untuk mengejar kebugaran, ada yang ingin menghemat perjalanan, ada yang mencari pengalaman baru, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati kota dengan cara berbeda.
Gaya hidup aktif ikut mendorong tren sepeda
Perubahan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup aktif.
Sepeda memberikan cara sederhana untuk memasukkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian. Seseorang tidak harus selalu menyediakan waktu khusus untuk berolahraga jika perjalanan sehari-harinya bisa sekaligus dilakukan dengan bersepeda.
Tren sepeda juga berkembang ke berbagai segmen. MTB, misalnya, masih menjadi bagian dari gaya hidup aktif dan komunitas sepeda di Indonesia pada 2026.
Di sisi lain, sepeda hybrid juga menjadi pilihan untuk kebutuhan perkotaan karena menawarkan karakter yang relatif serbaguna untuk jalan aspal dan rute dengan permukaan yang tidak selalu mulus.
Tantangan untuk menjadikan sepeda bagian dari kota
Meski tren bersepeda terus berkembang, menjadikan sepeda sebagai bagian dari kehidupan kota tentu tidak cukup hanya dengan bertambahnya jumlah pesepeda.
Keamanan menjadi salah satu persoalan penting.
B2W Indonesia pada 2026 mendorong agar jalur sepeda terhubung dengan kawasan permukiman, pusat bisnis dan stasiun transportasi. Komunitas tersebut juga meminta fasilitas pendukung seperti parkir sepeda yang aman serta penegakan aturan terhadap kendaraan bermotor yang menggunakan jalur sepeda.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kultur bersepeda juga berkaitan erat dengan bagaimana sebuah kota merancang ruang untuk berbagai pengguna jalan.
Pada akhirnya, sepeda telah bergerak lebih jauh dari sekadar alat olahraga.
Di tengah tren bersepeda yang terus berkembang pada 2026, sepeda mulai menjadi bagian dari mobilitas, komunitas, gaya hidup dan cara masyarakat menikmati kota.
Mungkin itu sebabnya budaya bersepeda tidak hanya bisa dilihat dari berapa banyak orang yang mengayuh sepeda di jalan. Lebih jauh dari itu, keberadaan pesepeda ikut mengubah cara sebuah kota melihat perjalanan, ruang publik dan pilihan mobilitas warganya.