Perang melawan Iran, yang memasuki bulan kesembilan, memang tidak populer di kalangan rakyat Amerika sejak awal berkecamuk pada akhir Februari lalu. Selama masa kampanye, para kandidat Partai Demokrat di berbagai wilayah AS menuding konflik Iran sebagai penyebab melonjaknya harga bahan bakar dan berbagai barang kebutuhan lainnya.
Trump sendiri memberikan pernyataan yang berubah-ubah mengenai tujuan dan kerangka waktu perang tersebut. Di satu sisi, dia mengancam akan meningkatkan serangan militer AS, namun di sisi lainnya, dia mengklaim dapat mengakhiri konflik tersebut kapan saja.
Sementara itu, di Teheran, hasil pemilu sela AS disambut dengan kepuasan. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil itu menunjukkan bahwa rakyat Amerika menegaskan sikap untuk menolak perang.
"Rakyat Amerika mengatakan NO TO WAR (TIDAK PADA PERANG), dan kami mendukung pesan ini," kata Ghalibaf, yang juga kepala perunding Iran dalam negosiasi damai dengan AS, dalam pernyataan via media sosial X.