Laporan-laporan media AS itu muncul setelah Trump, pada Sabtu (26/9), menolak usulan terbaru Iran mengenai gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Dia menyebut usulan terbaru Teheran itu "tidak dapat diterima".
Pra pejabat Iran mengajukan usulan terbaru soal rencana gencatan senjata selama tujuh hari, yang diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, jika AS memenuhi syarat-syarat Teheran. Usulan itu disampaikan kepada mediator konflik AS-Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu.
Persyaratan yang diajukan Iran dalam usulan terbarunya mencakup penghentian segala permusuhan di Timur Tengah selama tujuh hari, termasuk di Lebanon -- di mana kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, bertempur melawan Israel. Usulan itu juga menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 12 miliar (setara Rp 214,9 triliun), juga pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan diakhirinya blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada hari ketujuh gencatan senjata berlangsung, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump, dalam pernyataan sebelumnya, menyebut Iran "terlalu percaya diri dengan posisi tawar mereka".