NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump merefleksikan kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela dengan mengatakan bahwa meskipun para pemilih mendukung sikapnya terhadap Iran, mereka kemungkinan tidak bersedia menanggung kenaikan harga bensin yang dipicu perang tersebut.
“Orang-orang setuju dengan apa yang saya lakukan terhadap Iran, tetapi mereka mungkin benar-benar tidak bersedia menghadapi konsekuensi jangka pendek berupa pembayaran lebih mahal untuk bensin,” kata Trump kepada Fox News, Rabu, setelah pemungutan suara pemilu sela yang digelar pada Selasa (3/11).
Ia menyebut tekanan harga tersebut sebagai masalah jangka pendek, tetapi demi keuntungan jangka panjang.
Trump memperingatkan bahwa militer AS dapat “menyelesaikan pekerjaan” jika Teheran tidak bersedia bekerja sama. Namun, ia tetap menyatakan bahwa kesepakatan diplomatik masih dapat dicapai apabila kesepakatan tersebut menetapkan pembatasan yang mengikat terkait senjata nuklir.
Ia juga kembali menegaskan keputusannya untuk memangkas bantuan kepada Israel. Menurut Trump, Israel telah menjadi cukup kaya dan tidak lagi membutuhkan bantuan tahunan sebesar 4 miliar dolar AS (sekitar Rp72,59 triliun).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika sejumlah media AS memproyeksikan Partai Demokrat akan merebut kendali Senat dan berpeluang memperoleh mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang dapat membatasi agenda legislasi Trump.
Mengakui hasil pemilu tersebut, Trump memuji para kandidat oposisi karena telah berjuang dengan keras. Ia juga mengatakan dapat bekerja sama dengan Partai Demokrat dalam banyak hal, termasuk persoalan imigrasi.
Secara terpisah, Trump mengatakan kepada Politico, bahwa meskipun dirinya memiliki kewenangan konstitusional untuk memveto undang-undang, ia lebih memilih bekerja sama dengan para anggota parlemen daripada menghabiskan dua tahun untuk memveto berbagai rancangan undang-undang.
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan